7 Etika Mensetsu Jepang Agar Lolos Wawancara Kerja

7 Etika Mensetsu Jepang Agar Lolos Wawancara Kerja

Halo pejuang karir! Punya mimpi kerja di Jepang? Entah kamu sedang mengincar program magang (Ginou Jisshu), visa pekerja terampil (Tokutei Ginou), atau posisi profesional di perusahaan Jepang, ada satu gerbang utama yang wajib kamu lewati: Mensetsu alias wawancara kerja.

Tapi tahukah kamu kalau wawancara di Jepang itu beda banget sama di Indonesia? Di Jepang, skill dewa dan bahasa Jepang yang lancar aja nggak cukup. Perusahaan Jepang sangat menjunjung tinggi yang namanya etika mensetsu Jepang.

Bayangkan, dari detik pertama kamu berdiri di depan pintu ruangan interview, kamu sudah dinilai! Kesalahan kecil seperti salah mengetuk pintu atau posisi duduk yang kurang pas bisa bikin HRD Jepang ilfeel dan langsung mencoret namamu dari daftar kandidat. Makanya, memahami tata krama wawancara Jepang ini sifatnya mutlak.

Yuk, kita bahas tuntas panduan persiapan wawancara kerja Jepang yang bakal bantu kamu tampil percaya diri dan tentunya, meningkatkan peluang lolos!

7 Etika Mensetsu Jepang Agar Lolos Wawancara Kerja

Mengapa Etika Lebih Penting daripada Jawaban Teknis di Jepang?

Sebelum kita masuk ke langkah-langkah praktisnya, kamu harus paham dulu pola pikir perusahaan di negeri sakura. Di Jepang, harmoni (Wa) dan kedisiplinan adalah segalanya. Mayoritas perusahaan di sana lebih suka merekrut kandidat yang sopan, mau belajar, dan bisa mengikuti aturan perusahaan dengan baik, daripada orang jenius tapi tidak punya tata krama.

HRD menggunakan etika mensetsu Jepang sebagai tolak ukur kedisiplinanmu. Kalau di hal-hal dasar seperti cara masuk ruang interview Jepang saja kamu sudah abai, bagaimana nanti kalau kamu harus berhadapan dengan klien atau rekan kerja di kantor? Jadi, anggaplah etika ini sebagai bahasa tubuh yang menunjukkan rasa hormatmu kepada perusahaan.

Baca Juga: Cara Jadi Sopir Truk di Jepang Lewat Tokutei Ginou Driver: Syarat, Gaji, dan Alur Lengkapnya

7 Etika Mensetsu Jepang yang Wajib Dihafal Pelamar

Nah, sekarang siapkan catatanmu! Berikut adalah 7 urutan tata krama yang harus kamu lakukan dari awal sampai akhir sesi mensetsu.

1. Mengetuk Pintu Tepat 3 Kali

Ini mungkin terdengar sepele, tapi ini adalah aturan emas yang sering dilanggar pelamar asing. Saat kamu berada di depan ruang wawancara, ketuklah pintu sebanyak 3 kali. Jangan 2 kali, dan jangan 4 kali!

Kenapa tidak boleh 2 kali? Dalam budaya Jepang, mengetuk pintu 2 kali itu umumnya digunakan untuk mengecek apakah ada orang di dalam toilet. Kalau kamu mengetuk pintu ruang wawancara 2 kali, itu dianggap sangat tidak sopan dan menyamakan ruang interview dengan toilet. Ketuklah 3 kali dengan tempo sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu keras). Setelah mengetuk, tunggu sampai ada jawaban “Douzo” (Silakan masuk) dari dalam. Kalau belum ada jawaban, jangan langsung buka pintu, ya!

2. Meminta Izin Sebelum Memasuki Ruangan (Shitsurei Shimasu)

Setelah mendengar suara “Douzo”, buka pintu secara perlahan. Jangan langsung nyelonong masuk! Berdirilah di ambang pintu, tatap pewawancara, dan ucapkan dengan suara yang jelas dan mantap: “Shitsurei shimasu” (Permisi/Maaf mengganggu).

Setelah itu, masuklah ke dalam ruangan dan tutup pintu perlahan. Ingat, saat menutup pintu, usahakan jangan membelakangi pewawancara sepenuhnya. Coba posisi tubuh setengah menyerong agar pandanganmu tetap bisa menjangkau pewawancara. Jangan membanting pintu! Tutup dengan lembut menggunakan kedua tangan. Sikap hati-hati ini menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang teliti dan menghargai ketenangan.

7 Etika Mensetsu Jepang Agar Lolos Wawancara Kerja

3. Menguasai Seni Membungkuk (Ojigi) dengan Benar

Ojigi mensetsu alias tradisi membungkuk adalah inti dari tata krama wawancara Jepang. Di sana jabat tangan jarang dilakukan, jadi ojigi adalah penggantinya. Setelah menutup pintu, berjalanlah ke samping kursi yang sudah disediakan. Berhenti sejenak, menghadap ke pewawancara, dan lakukan ojigi.

Biar nggak bingung, ini panduan jenis ojigi dan kapan kamu harus menggunakannya selama wawancara:

Jenis Ojigi Sudut Kemiringan Kapan Digunakan Saat Mensetsu? Makna & Kesan
Eshaku 15 Derajat Berpapasan dengan staf di lorong atau keluar pintu. Salam ringan, sopan, dan ramah.
Keirei 30 Derajat Saat baru memasuki ruangan (di samping kursi). Rasa hormat standar dalam bisnis.
Saikeirei 45 Derajat Saat selesai wawancara dan berterima kasih. Rasa hormat yang sangat dalam.

Tips melakukan Ojigi: Jangan membungkuk hanya dari leher. Jaga punggung dan leher tetap lurus, lalu tekuk pinggangmu. Untuk pria, letakkan tangan lurus di samping jahitan celana. Untuk wanita, tumpuk kedua tangan di depan perut bawah. Tahan posisi membungkuk selama 1-2 detik, lalu kembali tegak perlahan.

4. Menunggu Dipersilakan Sebelum Duduk & Menaruh Tas di Lantai

Setelah melakukan Keirei (membungkuk 30 derajat) di samping kursi, sebutkan nama lengkapmu dan sampaikan salam perkenalan singkat. Misalnya: “Nama saya Budi. Yoroshiku onegaishimasu.”

Setelah itu, jangan langsung duduk! Ini pantangan besar. Tunggu sampai pewawancara berkata, “Douzo okake kudasai” (Silakan duduk). Sebelum duduk, ucapkan lagi “Shitsurei shimasu”, lalu duduklah dengan tenang.

Lalu, di mana kamu harus meletakkan tas? Jangan pernah menaruh tas di atas meja wawancara atau di kursi kosong sebelahmu. Letakkan tas di lantai, tepat di samping kursimu. Pastikan tasmu punya alas yang kokoh sehingga bisa berdiri tegak dan tidak mudah jatuh agar tidak mengganggu konsentrasi.

Baca Juga: Lulusan SMA/SMK Ingin Kerja di Jepang, Apakah Bisa?

5. Menjaga Postur Tubuh, Kontak Mata, dan Nada Suara

Cara duduk kamu juga diamati lho. Jangan bersandar penuh ke punggung kursi seolah sedang bersantai di rumah. Duduklah di setengah atau dua pertiga bagian depan kursi dengan punggung tegak lurus.

  • Untuk Pria: Buka lutut selebar bahu dan letakkan tangan dalam posisi mengepal santai di atas masing-masing paha.
  • Untuk Wanita: Rapatkan kedua lutut dan letakkan kedua tangan secara tumpang tindih di atas paha.

Jaga kontak mata dengan pewawancara saat berbicara. Kalau kamu gugup menatap mata mereka secara langsung, tataplah bagian hidung atau simpul dasi mereka. Selain itu, pastikan kamu menjawab dengan suara yang genki (bersemangat), jelas, dan tidak terlalu pelan. Suara yang lemas akan membuatmu terlihat tidak punya motivasi.

6. Menjawab dan Bertanya dengan Sopan (Menghindari Pantangan)

Selama sesi tanya jawab berlangsung, hindari menggunakan bahasa kasual, santai, atau bahasa gaul Jepang. Sebisa mungkin gunakan bahasa yang sopan (Teineigo atau Keigo). Dengarkan pertanyaan dengan seksama dan jangan pernah memotong kalimat pewawancara.

Nanti, akan ada momen di mana HRD bertanya, “Nanka shitsumon arimasuka?” (Ada pertanyaan?). Ini adalah kesempatan emas! Tanyakan hal yang menunjukkan antusiasmemu, seperti: “Apa tantangan terbesar di posisi ini yang bisa saya pelajari?” atau “Keterampilan apa yang paling perusahaan butuhkan saat ini?”.

Pantangan wawancara kerja Jepang yang wajib dihindari:

  • Jangan menanyakan gaji, bonus, libur, atau cuti di pertanyaan pertama (memberi kesan kamu cuma peduli soal uang).
  • Jangan bertanya hal yang jawabannya sudah terpampang jelas di website perusahaan (membuktikan kamu malas riset).
  • Jangan menggaruk kepala, menggoyangkan kaki, atau bolak-balik melihat jam tangan.

7. Tata Krama Berpamitan dan Keluar Ruangan

Wawancara sudah selesai? Eits, ujian etika mensetsu Jepang belum berakhir. Cara kamu pamit juga sangat krusial dan bisa merubah penilaian akhir.

Saat pewawancara menutup sesi, tetaplah duduk dan ucapkan terima kasih: “Honjitsu wa o-jikan o itadaki, arigatou gozaimashita” (Terima kasih banyak atas waktu Anda hari ini).

Lalu berdirilah di samping kursi, ambil tasmu, dan lakukan Saikeirei (membungkuk 45 derajat). Berjalanlah menuju pintu. Sebelum membuka pintu, berbaliklah menghadap pewawancara, ucapkan “Shitsurei shimasu” sambil menunduk ringan (Eshaku). Setelah itu, barulah buka pintu, keluar, dan tutup kembali pintunya dengan sangat pelan sambil menghadap ke dalam ruangan. Fiuuh, selesai deh!

Kesimpulan: Sukses Mensetsu Dimulai dari Sikap Anda

Menghafal teori etika mensetsu Jepang mungkin terlihat gampang di atas kertas. Tapi percayalah, saat eksekusi di lapangan dengan jantung berdebar dan ditatap langsung oleh orang Jepang asli semuanya bisa buyar.

Makanya, kunci utamanya adalah latihan simulasi terus-menerus. Semakin sering kamu berlatih gerakan mengetuk pintu, mengukur sudut ojigi, sampai mengatur cara duduk, tubuhmu akan terbiasa dan bergerak secara natural tanpa kelihatan kaku. Sikap santun dan natural inilah yang akan memenangkan hati para HRD.

Siap Menghadapi Mensetsu Pertamamu?

Udah paham tata kramanya tapi masih kurang pede dengan kemampuan bahasa Jepangmu? Jangan sampai mimpimu kerja di Jepang terhenti cuma karena gugup! Persiapkan wawancara bahasa Jepang Anda dengan matang. Yuk, baca artikel persiapan karir kami lainnya, ikuti simulasi mensetsu, atau gabung dengan kelas bahasa Jepang intensif sekarang dan konsultasikan langsung dengan tim Japanka di sini. Ganbatte kudasai!

FAQ (Frequently Asked Questions) Seputar Etika Mensetsu Jepang

Supaya persiapan kamu makin matang dan tidak ada yang terlewat, berikut adalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang paling sering dicari oleh para kandidat:

Apa yang harus ditanyakan saat mensetsu Jepang?

Saat diberi kesempatan bertanya, tanyakan hal yang menunjukkan antusiasme terhadap pekerjaan tersebut. Contohnya, “Apa tantangan terbesar di posisi ini?” atau “Keterampilan apa yang paling perusahaan butuhkan saat ini?”. Hindari menanyakan hal yang jawabannya sudah tersedia di website perusahaan atau langsung menanyakan masalah gaji dan cuti di awal wawancara.

Apa saja yang tidak boleh dilakukan saat mensetsu di Jepang?

Jangan datang terlambat dan usahakan datang 10–15 menit lebih awal. Selain itu, jangan duduk sebelum pewawancara mempersilakan, jangan menaruh tas di atas kursi atau meja karena tas harus diletakkan di lantai di samping kursi, jangan memotong pembicaraan, dan jangan menatap ke arah lain saat pewawancara sedang berbicara.

Bagaimana cara bersalaman orang Jepang saat interview?

Dalam budaya kerja Jepang, jabat tangan sangat jarang dilakukan. Sebagai gantinya, mereka menggunakan ojigi atau membungkuk. Saat wawancara, gunakan Keirei dengan membungkuk sekitar 30 derajat saat memasuki ruangan dan berdiri di samping kursi. Gunakan Saikeirei dengan membungkuk sekitar 45 derajat saat berterima kasih di akhir sesi wawancara.

Apa yang dianggap tidak sopan saat wawancara di Jepang?

Mengetuk pintu hanya 2 kali dianggap kurang tepat karena ketukan 2 kali di Jepang umumnya digunakan saat mengetuk pintu toilet. Untuk ruang wawancara, ketuk pintu sebanyak 3 kali. Selain itu, membungkuk secara berlebihan atau terus-menerus mengangguk juga dapat terlihat kurang profesional dan dibuat-buat.

Wujudkan Impian Kerja di Jepang dengan Japanka

Japanka, Solusi Tepat Berangkat Kerja ke Jepang

Daftar Isi

Bagikan

Anda Mungkin Juga Menyukai